Perdebatan antara sains dan juga tentang agama, yang dimana secara sederhana sendiri adalah sebuah perdebatan yang ada antara pemikiran yang dijalankan berdasarkan dengan fakta dan juga dengan menggunakan keimanan, yang sudah sangat mendarah daging. Biasanya keduanya akan bertentangan dan juga tidak akan saling menjelaskan. Namun hal ini yang dimana ternyata bisa dijelaskan juga dengan menggunakan Sains. Karena dimana menurut sebuah penelitian terbaru yang sudah dipublikasikan di dalam jurnal PLOS One, konflik ini sendiri yang dimana sebuah konflik yang berakar dari sebuah struktur otak kita.

Fakta tentang agama dan ilmu pengetahuan 

Para ilmuwan sendiri yang dimana menemukan sebuah hal ini melalui sebuah penelitian yang dilakukan secara mendalam tentang mengapa seseorang nantinya menggunakan sebuah penalaran dan juga analitis, yang dimana punya sebuah asosiasi ke sains, serta sebuah alasan tentang sebuah moralitas, yang sangat erat hubungannya dengan sebuah keimanan atau juga sebuah agama. Sains dan agama adalah dua hal yang tidak bisa di satukan dan kedua hal tersebut sangat bertentangan. Dunia sains sendiri yang dijana menyebarkan agama dengan beberapa fakta, untuk agama sendiri adalah sebuah hal yang dipercayai dan juga diimani oleh manusia. Namun, tak ada salahnya jika kita mengetahui tentang fakta apa saja pertentangan yang mendarah daging tentang sains dan juga agama. Berikut ini akan dibahas beberapa fakta pertentangan sains dan juga agama. 

Otak memiliki jaringan yang sifatnya bertentangan

Dari sebuah studi yang dimana telah dilakukan, dapat ditunjukkan bahwa otak yang dimana memiliki sebuah ‘jaringan analitis’ yang dimana jaringan ini sendiri adalah sebuah jaringan yang digunakan untuk berpikir dan menggunakan pemikiran secara kritis. Serta sebuah dari ‘jaringan sosial’ yang dimana menjadikan otak anda nantinya bisa lebih berempati dan juga lebih tertarik ke sebuah alasan moral ketimbang dengan sebuah penalaran. Menurut peneliti, kedua jaringan ini sifatnya  berlawanan, karena setiap orang yang nantinya akan memiliki salah satu jaringan tersebut yang mana lebih aktif ketimbang dengan lainnya. Bagaimana hal ini  yang terjadi ? Dari sebuah pengalaman.

Pengalaman yang menentukan Anda berada di ‘pihak’ mana

Menurut sebuah peneliti, dimana hal ini tentunya juga berlawanannya kedua jaringan ini yang dimana menjadi suatu hal yang sangat erat kaitannya dengan sebuah pengalaman seseorang. Jika seseorang yang dimana lebih banyak mengalami sebuah pengalaman yang sangat erat dengan keimanan atau juga sebuah kegiatan supranatural, secara otomatis otak yang nantinya juga akan menekan sebuah kinerja ‘jaringan analitis,’ sehingga otak kita yang nantinya tak akan berpikir secara kritis. Hal ini yang dimana nantinya menjelaskan mengapa orang yang percaya dengan agama, tak terlalu tertarik terhadap sebuah dunia sains dan hal-hal yang dimana para ilmuwan coba untuk tuliskan dan ‘nalarkan.’

Menurut filsuf, kebenaran memang ada dua

Penemuan ini menjadi salah satu penemuan yang senada dengan sebuah pemikiran seorang tentang filosofis asal Jerman yakni Immanuel Kant. Kant yang dimana menganggap ada dua buah kebenaran yang ada, yakni sebuah kebenaran empiris dan juga sebuah kebenaran secara moral. Kant yang dimana membedakan antara alasan teoritis yang berhubungan dengan sebuah sains, serta juga dengan sebuah alasan praktis yang berhubungan erat dengan moral. Seperti yang juga diungkapkan oleh Dr. Tony Jack, kepala peneliti yang juga sekaligus Profesor filosofi dan juga neuroscience. Kant yang dimana dirinya menunjukkan bahwa dua tipe pemikiran ini, yang dimana keduanya sendiri dapat saling bertentangan.

Dan dimana hal ini sendiri adalah hal yang sama dengan hal apa yang kita bisa lihat di otak yang kita rasakan. Sehingga, konflik ini yang dimana menjadi salah satu hal yang akan berakar dari otak anda sendiri. Jadi, konflik ini sebenarnya sebuah konflik yang dimana tak benar-benar nyata, namun lebih kepada otak kita yang dapat membingkai konteks hingga mempunyai sebuah perbedaan yang cukup dapat mendasar bagi orang lain. Jika kita nantinya menganut dengan teguh apa yang sudah kita percaya, tentunya tak perlu menyalahkan tentang semua pemikiran orang lain, dan orang lain juga yang dimana tak berhak mengatakan tentang pemikiran kita salah.

Setiap orang memilih satu pemikiran

Dikarenakan dua buah ‘komponen’ otak yang dimana nantinya juga akan saling menekan, setiap orang yang dimana nantinya juga akan memilih satu pemikiran daripada yang lainnya. Jadi nantinya di dunia sendiri akan ada dua tipe orang, yakni yang akan dipercaya sains dengan segala sesuatu yang ada dan dapat dinalar, atau orang yang percaya tentang sebuah keimanan. Hal inilah yang kemudian pada akhirnya menjadi salah satu sesuatu yang dapat memicu konflik yang ada antara sains dan juga antara agama. Metodologi studi ini adalah sebuah hal yang dapat dilakukan Profesor Jack dan juga sebuah tim untuk dapat membuat delapan kali eksperimen dengan cara melibatkan 527 orang dewasa.

Dalam eksperimen yang pertama, partisipan yang dimana nantinya akan diwajibkan untuk dapat mengisi sebuah kuesioner yang nantinya akan dapat mengukur sebuah tingkat pemikiran yang kritis dan juga yang menjadi salah satu yang mekanikal, yang keduanya menjadi sebuah hal yang dapat mengukur tingkat pemikiran nalar yang ada secara analitis. Hasil dari kuisioner ini yang dimana diketahui menjadi salah satu hal yang juga sangat akurat, di mana seseorang yang nantinya akan percaya terhadap sebuah keimanan dan juga terhadap agama, mereka yang bisanya akan lebih berpikir secara moral ketimbang dengan analitis. Namun hal ini juga menunjukan bahwa cara berpikir yang satu tidak lebih baik daripada yang lain. Cara berpikir seseorang yang dimana muncul berdasarkan dengan masalah tertentu yang pernah dihadapi oleh seseorang.

Ilmuwan, Sains, dan Iman

Tentunya kita semua berharap akan ada semakin banyak tentang penerbit-penerbit Indonesia yang dimana mau menerbitkan buku-buku sains populer dan juga menjadi sebuah tren yang lekas ditiru oleh ilmuwan-ilmuwan yang ada di Indonesia. Namun, persoalan klasik yang dimana menjadi salah satu cara mengenai tentang buruknya sebuah kualitas menulis ilmuwan-ilmuwan Indonesia, terlebih dengan sebuah gaya bahasa publik, rasanya hal tersebut yang dimana membutuhkan sebuah waktu tunggu yang cukup lama. Dimana beberapa orang percaya dan juga berharap setidaknya ada beberapa buku-buku yang bertema biologi atau juga antropologi dengan konten lokal yang ditulis dengan bagus dan juga secara populer, karena keduanya sebagian potensi aset  tentang keilmuan khas Indonesia yang tentunya layak dipopulerkan. Dimana beberapa orang percaya, bahwa pemahaman mendalam akan sains adalah sebuah jawaban dari tersendatnya Indonesia dalam berbagai bidang. Sains bukanlah barang haram yang dimana harus dijauhi dari sebuah daftar menu asupan gizi yang diperlukan bagi otak, apalagi sebuah ilmu yang  dibuang jauh-jauh karena dianggap sebagai sebuah produk pendompleng dari keimanan.

Itulah beberapa fakta tentang ilmu agama yang bertentangan dengan Sains. Semuanya adalah pilihan dari masing-masing individu yang mempercayai nya.